Internet masa kini mungkin jauh lebih cepat dan canggih dibandingkan beberapa dekade yang lalu. Namun, bagi mereka yang tumbuh besar dengan Bulletin Board System atau BBS, ada rasa hangat yang hilang sekarang. Teknologi lama tersebut menawarkan kedekatan emosional yang sulit ditemukan dalam hiruk pikuk media sosial modern yang sangat mekanis.
Pada era BBS, akses internet masih sangat terbatas dan membutuhkan kesabaran luar biasa melalui modem kabel telepon. Pengguna harus menunggu giliran untuk masuk ke dalam sistem yang hanya bisa menampung sedikit orang sekaligus. Keterbatasan teknis ini justru menciptakan eksklusivitas dan rasa kebersamaan yang sangat kuat di antara sesama pengguna lokal.
Setelah era BBS, muncul Internet Relay Chat atau IRC yang membawa revolusi dalam komunikasi teks secara langsung. IRC memungkinkan orang dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam kanal tertentu berdasarkan minat yang sangat spesifik. Tidak ada algoritma yang mengatur apa yang harus Anda lihat, hanya ada percakapan murni antara sesama manusia.
Mengapa internet masa lalu terasa lebih manusiawi dibandingkan dengan ekosistem digital yang kita tempati saat ini? Jawabannya terletak pada ketiadaan motif komersial yang agresif dan manipulasi data pengguna untuk kepentingan iklan. Interaksi digital kala itu dibangun atas dasar rasa ingin tahu yang tulus dan semangat berbagi informasi tanpa pamrih.
Di dalam kanal IRC, dinilai berdasarkan jumlah pengikut atau seberapa viral konten yang dibuat. Reputasi dibangun melalui kualitas percakapan, bantuan yang diberikan kepada sesama anggota, dan kontribusi nyata dalam komunitas. Hubungan yang terjalin terasa sangat organik karena tidak ada tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan publik.
Media sosial modern justru seringkali membuat kita merasa terisolasi meskipun terhubung dengan ribuan orang di seluruh dunia. Algoritma cenderung menggiring kita ke dalam ruang gema yang hanya memperkuat bias tanpa memberikan ruang diskusi sehat. Sebaliknya, IRC dan BBS menuntut keterlibatan aktif dan empati dalam setiap baris teks yang kita ketikkan.
Keamanan dan privasi di masa lalu juga terasa lebih sederhana karena tidak ada pelacakan perilaku secara masif. Pengguna merasa memiliki kendali penuh atas identitas anonim mereka tanpa takut data pribadi akan dijual ke pihak ketiga. Rasa aman ini mendorong terciptanya diskusi yang lebih jujur, mendalam, dan jauh dari sekadar pencitraan.
Mengenang BBS dan IRC bukan berarti kita ingin kembali ke teknologi lambat yang sudah usang dan tertinggal. Kita merindukan semangat komunitas di mana manusia adalah pusat dari teknologi, bukan sekadar komoditas bagi perusahaan besar. Nilai-nilai kemanusiaan itulah yang seharusnya kita bawa kembali ke dalam pengembangan teknologi internet di masa depan.
Internet masa lalu adalah tentang membangun jembatan komunikasi, sementara internet masa kini lebih sering membangun tembok algoritma. Kita perlu belajar dari sejarah digital agar bisa menciptakan ruang siber yang lebih inklusif dan ramah. Nostalgia ini adalah pengingat bahwa koneksi sejati hanya bisa terjadi jika kita mengutamakan interaksi yang tulus.
Masa depan teknologi harus mampu mengembalikan rasa kebersamaan yang pernah kita rasakan di masa kejayaan teks sederhana. Meskipun visual internet sekarang sangat memukau, jiwa dari sebuah jaringan tetaplah terletak pada manusia yang ada di dalamnya. Mari kita buat internet kembali terasa manusiawi dengan mengutamakan kualitas hubungan di atas kuantitas.